SENIN tiba, hari yang rasanya akan begitu melelahkan karena selama weekend kemarin sudah nyaman rebahan. Tapi bagi Sri, semua hari sama. Ia tetap harus bangun pagi, menghapus kebiasaan nambah tidur setelah shubuh. Itu salah satu resolusi 2021 yang sudah tertulis di dahinya.
Selain karena harus beres-beres rumah, ia juga percaya dengan kata-kata:
"Kalau kita tidak segera bangun, bisa jadi rezeki dipatok ayam duluan."
Niatnya semalam tetap berlangsung pagi ini walaupun gerimis mengundang. Niat untuk keliling desanya sendiri. Bukan karena tugas wajib dari siapa pun, karena Sri bukan orang pemerintahan yang lagi survei tempat dan kondisi secara terjadwal. Laju sepeda motornya begitu santai, Sri menikmati perjalanan itu. Ia menamakannya 'Perjalanan Dosa-Dosa Klasik'.
Di sepanjang jalan, Sri menemukan seorang ibu penjual sayur keliling sedang mengayuh sepedanya. Berpakaian mantel transparan dan bertudung caping. Tetap dengan wajah semringah menawarkan jualannya ke rumah-rumah. Ia juga berjumpa dengan para bapak tua yang hendak pergi ke sawah sedang berteduh. Sama sekali tak tampak wajah marah pada Bumi selama menunggu hujan reda. Ada juga penjual cilok yang sudah siap berangkat tapi tidak bisa berjualan hari ini karena hujan yang tiba-tiba deras. Hingga pada akhirnya ia memilih untuk membagikan ciloknya kepada para tetangganya.
Mereka melakukannya dengan ikhlas. Semua demi menghidupi kebutuhan makan keluarga yang di rumah, membiayai anaknya yang semangat ke sekolah meski hujan, dan berharap bisa menyisakan sebagian rezeki untuk disedekahkan. Baru kali ini Sri menangis sesenggukan di jalan raya yang aspalnya sudah rusak padahal yang diperbaiki belum genap setahun.
Klasik yang membuat pilu sekaligus miris. Sri yang hanya tukang survei tanpa punya name tag yang berkilau di atas saku bajunya, hanya bisa mengelus dada. Masih banyak rakyat yang berjuang keras mengais rezeki sedangkan para koruptor asyik memerah uang demi kepuasan pribadi. Tak kunjung surut di negeri ini. Sampai-sampai berita korupsi bukan hal yang mengejutkan lagi bagi masyarakat. Sekali pun mereka sadar, jika sebagian uang korupsi itu juga ada yang seharusnya menjadi hak mereka.
"Kenapa akal rakyat yang kutemui tadi lebih sehat dari para koruptor yang berpendidikan? Mereka lebih mulia."
Lalu Sri memborong sisa cilok bapak tadi dan memberikannya pada beberapa anak yang lewat pulang sekolah sambil berbisik,
"Sekolahnya jangan cuma jadi pintar, tapi jadi yang mulai juga, ya."
Baca Selanjutnya: Sejarah Baru Bulu Tangkis Indonesia Bikin Sri Puasa Isu Politik (Edisi Sri: Eps 05)
