Tentunya, semua orang terutama yang bercita-cita untuk menjadi penulis, akan ngiler dan auto menulis di list goal hidupnya untuk menjadi seperti J.K Rowling, namun hanya seribu satu yang mau berjuang sekeras ia. Sebelum keinginannya hanya jadi bayang-bayang semu, kalian harus tahu tentang kisah perjuangannya yang sangat inspiratif hingga bisa menghasilkan karya novel berseri Harry Potter.
a. Suka sastra berkat ibunya menceritakan dongeng semasa kecilnya
Hal tersebut yang membuatnya memiliki kemampuan untuk berimajinasi dan menceritakan kembali setiap imajinasi yang bermain dalam pikirannya. Minatnya pada buku bacaan dan bahasa inggris juga sudah disadari sejak SD. Namun ia mengalami rasa tidak nyaman ketika guru matematikanya, Mrs. Morgan, menempatkannya di sisi kanan kelas sebagai anak yang kurang pandai, padahal ia menyadari bahwa dirinya termasuk anak yang cerdas. Pengalaman ini membuatnya cukup frustasi. Posisinya waktu itu digambarkan seperti karakter imajinasinya, Severus Snape dalam novel Harry Potter.
Di samping itu ada beberapa guru yang membuatnya sangat bangga dan senang. Mereka selalu mendorong serta memberinya dukungan positif atas bakat menulisnya yang imajinatif, inspiratif, dan juga menarik. Salah satu momen bahagia yang diingatnya ketika ia diberi kesempatan untuk membacakan karyanya di depan kelas, termasuk ketika beberapa guru memberi motivasi bahwa J.K Rowling mampu melakukannya dengan baik. Tapi di sisi lain, di masa kecilnya, ia dikenal sebagai anak yang tidak mudah bergaul, penyendiri, dan hidup dalam sebuah fantasi dengan setiap tulisan dalam buku catatan pribadinya.
b. Dongeng pertamanya ditulis saat berusia 6 tahun
Masa kecil J.K Rowling sebagai seorang novelis cilik ia lewati dengan sangat bahagia. Ia menulis kisahnya saat berusia 6 tahun. Kisah pertamanya mendongengkannya pada sang adik, yaitu Dee. Dongeng ini bercerita tentang seekor kelinci yang disebut Rabbit, yang terkena campak. Teman-teman Rabbit datang mengunjunginya, diantaranya seekor lebah raksasa yang disebut Miss Bee.
c. Suka membaca cerita klasik hingga menciptakan mantra-mantra di Novel Harry Potter
J.K Rowling kuliah di Universitas Exeter di Inggris dan mengambil jurusan bahasa Perancis. Saat berkuliah, ia banyak menghabiskan waktu untuk membaca cerita klasik, bahkan seringkali melewati batas waktu peminjaman buku sehingga di denda £ 50. Cerita-cerita klasik yang dibaca inilah yang berguna pada penciptaan mantra-mantra di novel Harry Potter yang beberapa di antaranya berbasis bahasa latin.
d. Ide Harrry Potter ditemukan saat duduk di kereta.
Ide Harry Potter ditemukan saat ia duduk di dalam kereta yang membawanya kembali ke London pada 1990. Ia tidak tahu mengapa atau apa yang memicunya memiliki imajinasi seperti itu. Tiba-tiba ide itu masuk ke dalam pikirannya selama perjalanan.
Saat itu, dirinya memiliki sebuah gagasan tentang seorang anak laki-laki (Harry Potter) yang tidak tahu bahwa ia adalah seorang penyihir hingga akhirnya diundang ke sekolah penyihir (Hogwart). Setelah J.K Rowling kembali ke rumah, ia segera duduk di mejanya dan mulai menulis.
Namun pada suatu hari, apartemennya mengalami kerampokan. Pencuri mengambil banyak barang kenangan dari ibunya, tapi untungnya mereka tidak mencuri kotak sepatu yang terisi penuh dengan garis besar cerita novel "Harry Potter." Ia tahu bahwa sketsa tersebut adalah hartanya yang sangat berharga.
e. Didiagnosis depresi klinis dan berniat untuk bunuh diri
Setelah berpisah dengan suaminya, Jorge Arantes, ia memutuskan kembali ke Inggris dan menetap di Edinburgh, di rumah adiknya, dengan membawa Jessica (anaknya) dan koper berisi 3 bab pertama Harry Potter dan Batu Bertuah. Selama periode terberatnya tersebut, J.K Rwoling sempat didiagnosis menderita depresi klinis dan berniat untuk bunuh diri. Penyakit ini membantunya menciptakan karakter yang dikenal sebagai Dementor, makhluk gelap yang diperkenalkan di Harry Potter dan Tawanan Penjara Azkaban, di novel ketiga dalam serial Harry Potter.
![]() |
| Dementor |
Ia juga tak mempunyai uang, bahkan hanya untuk membayar foto kopi. Maka ia terpaksa mengetik ulang naskah yang sama hingga beberapa kali agar bisa diserahkan ke beberapa penerbit.
g. Perjuangan membuahkan hasil
Pada bulan Agustus 1996, ketika J.K. Rowling sudah mulai putus asa, akhirnya buku karyanya itu mendapatkan “lampu hijau” dengan penawaran harga sebesar £1.500 pembayaran di muka oleh Barry Cunningham, seorang editor dari Bloomsbury, penerbit di London. Saat mendengar begitu antusiasnya para pembaca di seluruh dunia, J.K. Rowling merasa tidak percaya.
Bahkan perjalanan hidupnya yang penuh cobaan tersebut, membuat ia menjadi salah satu penulis novel paling terkenal di dunia. Selain itu, berkat Novel Harry Potter, ia sukses menjadi salah satu wanita terkaya di dunia dengan kekayaan bersih sekitar $ 1 miliar dollar AS atau sekitar 14.8 triliun Rupiah pada tahun 2018.
Nah, banyak sekali lembah-lembah curam yang berhasil dilalui oleh J.K Rowling. Jika kalian menjadikannya panutan, bukan hanya pertanyaan "seberapa ingin kalian menjadi seperti J.K Rowling?", tapi tentang "seberapa tekadkah kalian untuk berjuang keras?"
Semoga semangat dari kisah inspiratif ini mengakar pada jiwa-jiwa kalian.

