Permasalahan yang kalau diceritakan oleh perempuan lain akan jadi ribuan episode, tapi kalau Sri bisa memangkasnya sekali cerita.
"Gotong royong memang harus tetap jadi tradisi orang Indonesia, tapi untuk masalah dunia pergosipan jangan gotong royong juga," gerutunya.
Ini berawal dari ia ikutan nimbrung dengan ibu-ibu yang sibuk beli sayur. Belinya gak sampai habis dua puluh ribu tapi ghibahin orangnya sudah sepanjang Terusan Suez. Ibu-ibu saling membicarakan tetangga yang beli mobil dibilang sombong, tetangga yang suka sedekah dibilang sok dermawan, tetangga yang wajahnya sudah kinclong dibilang pakai skincare KW. Parahnya lagi, tetangga yang pakai baju merah dan berponi dibilang gak cocok karena ini itu.
Awalnya Sri diam, pilih sayur yang segar dan bagus lebih layak dijadikan prioritas. Kemudian pindah sesi saling membanggakan tentang kehidupan mereka sendiri. Suaminya yang baru naik jabatan, anaknya yang selalu juara satu, yang selalu menang pencak silat, dan lain-lain. Karena Sri diam saja, akhirnya pembicaraan merambat padanya. Ia jadi korban.
"Kamu sudah sarjana tapi kok belum kerja-kerja? Kok malah sering di dalam rumah?" tanya salah satu ibu-ibu rempong itu.
"Di dalam rumah ada AC-nya, bikin sejuk." Sri cuma senyum lalu pergi.
Sri yang awalnya pengin ke Mars, pada akhirnya nggak jadi minggat. Ia memaklumi dan jadi berlapang dada menanggapi ibu-ibu desa yang beberapa dari mereka masih berpikir kalau kerja harus pakai setelan baju formal yang klimis dan pagi-pagi sudah lari-larian sama waktu. Mereka belum tahu kalau rumah yang ber-AC itu sudah jadi kantornya Sri untuk curhat sama dunia.
Aku malah geregetan. Jadi pengin datang ke rumah ibu-ibu itu, mewajibkan untuk mengikuti perkembangan berita terutama tentang teknologi, bukan hanya acara-acara gosip. Juga menyuruh mereka untuk menghentikan hobi menilai orang sesuka hati karena semua orang punya cara tersendiri menikmati hidup, terbaik versi mereka.
Ending-nya Sri yang kembali bijak malah menenangkanku. "Jangan marah, itu tugas kita mengedukasi masyarakat."
Baca Selanjutnya: Survei Perjalanan Dosa-Dosa Klasik (Edisi Sri: Eps 04)
