-->

Halaman

    Social Items







Semarak kembang api masih akan berlangsung nanti malam, tapi Sri sudah menulis catatan untuk negeri sebagai perwakilan dari pemuda Indonesia. Baginya, tahun baru itu waktunya refleksi, introspeksi, dan reinkarnasi jiwa baru yang semakin tahun harusnya lebih semangat.


Ingin sekali catatan ini Sri baca di tengah lapangan, tepatnya tengah malam waktu pergantian tahun. Ia memang bukan siapa-siapa sih. Jangankan orang penting, anaknya Pak RT saja bukan. Tapi setidaknya punya KTP, penduduk sah Indonesia. Punya hak bebas berpendapat.  

Nih, aku ketikkan isi catatannya:


Indonesia adalah raga yang lahir dari persatuan. Tumbuh dengan kemerdekaan yang menjadi warisan untuk bangsa, tugas pemuda untuk menjaganya. 


Akhir-akhir ini, toleransi selalu jadi bahasan krusial. Mulai krisis. Saling menyalahkan, saling hujat, sudah menjadi bahan perbincangan sehari-hari. Semua rebutan ingin "didengar" tapi tidak mau jadi "pendengar". Miris. 


Jadi ingat kata Najwa Shihab , "Buku mengasah pikiran jadi tajam dan dewasa, tidak melihat dunia sebagai hitam putih. Agar tak gampang diprovokasi, memahami arti penting toleransi."


Saya setuju jika toleransi bisa berkaitan erat dengan literasi. Pemuda harus punya kesadaran untuk gila baca, guna mengasah keterampilan termasuk keterampilan menyaring informasi. 

Karena di era teknologi canggih, banyak kabar hoaks yang mudah diedarkan dan dimakan mentah oleh orang-orang yang minim pengetahuan. Mudah dipecah-belah. Pada akhirnya toleransi jadi taruhannya. 


Pemuda juga seharusnya ketampar dengan pidato Greta Thunberg (16 th) di KTT Perubahan Iklim PBB 2019, yang cuplikan isinya:

"Manusia menderita. Manusia sekarat. Seluruh ekosistem runtuh. Kita berada di awal kemusnahan massal dan yang bisa kamu bicarakan hanyalah uang dan dongeng perkembangan ekonomi abadi. How dare you!"

Semua orang yg berjiwa pemuda harusnya jangan hanya disibukkan menyuarakan hal politik. Sesekali demo untuk kelestarian Bumi, rumah kita bersama. 


Saya, pemuda Indonesia dari desa, percaya jika semua tujuan tersebut bisa kita dicapai dengan kepedulian antar sesama. Seperti yang saya lakukan dengan komunitas desa saya, mengajak para generasi penerus bangsa untuk bertoleransi tinggi, berjiwa sosial, semangat berkarya, dan cinta lingkungan. 


Mari terus bersatu untuk rawat perdamaian dan kelestarian Bumi Pertiwi kita!


Baca selanjutnya: Sri Nggak Jadi Minggat ke Mars (Edisi Sri: Eps 03)

Catatan Untuk Negeri, Tertanda Pemuda (Edisi Sri: Eps 02)







Semarak kembang api masih akan berlangsung nanti malam, tapi Sri sudah menulis catatan untuk negeri sebagai perwakilan dari pemuda Indonesia. Baginya, tahun baru itu waktunya refleksi, introspeksi, dan reinkarnasi jiwa baru yang semakin tahun harusnya lebih semangat.


Ingin sekali catatan ini Sri baca di tengah lapangan, tepatnya tengah malam waktu pergantian tahun. Ia memang bukan siapa-siapa sih. Jangankan orang penting, anaknya Pak RT saja bukan. Tapi setidaknya punya KTP, penduduk sah Indonesia. Punya hak bebas berpendapat.  

Nih, aku ketikkan isi catatannya:


Indonesia adalah raga yang lahir dari persatuan. Tumbuh dengan kemerdekaan yang menjadi warisan untuk bangsa, tugas pemuda untuk menjaganya. 


Akhir-akhir ini, toleransi selalu jadi bahasan krusial. Mulai krisis. Saling menyalahkan, saling hujat, sudah menjadi bahan perbincangan sehari-hari. Semua rebutan ingin "didengar" tapi tidak mau jadi "pendengar". Miris. 


Jadi ingat kata Najwa Shihab , "Buku mengasah pikiran jadi tajam dan dewasa, tidak melihat dunia sebagai hitam putih. Agar tak gampang diprovokasi, memahami arti penting toleransi."


Saya setuju jika toleransi bisa berkaitan erat dengan literasi. Pemuda harus punya kesadaran untuk gila baca, guna mengasah keterampilan termasuk keterampilan menyaring informasi. 

Karena di era teknologi canggih, banyak kabar hoaks yang mudah diedarkan dan dimakan mentah oleh orang-orang yang minim pengetahuan. Mudah dipecah-belah. Pada akhirnya toleransi jadi taruhannya. 


Pemuda juga seharusnya ketampar dengan pidato Greta Thunberg (16 th) di KTT Perubahan Iklim PBB 2019, yang cuplikan isinya:

"Manusia menderita. Manusia sekarat. Seluruh ekosistem runtuh. Kita berada di awal kemusnahan massal dan yang bisa kamu bicarakan hanyalah uang dan dongeng perkembangan ekonomi abadi. How dare you!"

Semua orang yg berjiwa pemuda harusnya jangan hanya disibukkan menyuarakan hal politik. Sesekali demo untuk kelestarian Bumi, rumah kita bersama. 


Saya, pemuda Indonesia dari desa, percaya jika semua tujuan tersebut bisa kita dicapai dengan kepedulian antar sesama. Seperti yang saya lakukan dengan komunitas desa saya, mengajak para generasi penerus bangsa untuk bertoleransi tinggi, berjiwa sosial, semangat berkarya, dan cinta lingkungan. 


Mari terus bersatu untuk rawat perdamaian dan kelestarian Bumi Pertiwi kita!


Baca selanjutnya: Sri Nggak Jadi Minggat ke Mars (Edisi Sri: Eps 03)

Fiksi

Subscribe Our Newsletter