TAHUN BARU, tinggal menghitung hari. Waktunya ganti kalender baru.
"Hampir 100% semua penghuni Bumi bakal pasang status dan menulis resolusi tahun depan yang banyak seperti list belanjaan Ibuku," kata Sri.
Biasanya setiap tahun ia cuma jadi pakar pemantau status orang-orang di medis sosial. Tapi tahun ini berbeda, tiba-tiba ia pengin jadi penagih hutang dengan macam-macam wajah maupun usia. Terus mengetuk pintu rumah jejeran orang-orang penting di Indonesia.
Ia mau pakai topeng orang tua yang basah kuyup di pinggir jalan dengan baju compang-camping. Tak peduli lantai mereka kotor, terlanjur geregetan dengan ceramah maupun status ucapan tahun baru yang lalu. Awalnya cuma mau menunjukkan diri tapi mereka gak peka. Pada akhirnya teriak-teriak menagih janji.
"Kapan kesejahteraan akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat? Kapan semua janji tidak hanya di bibir?"
Beralih ke tempat lain, ia beradegan jadi korban ketidakadilan.
"Kapan hukum benar-benar ditegakkan?"
Kemudian menyamar jadi Pak RT, datang ke rumah-rumah pemuda di pagi buta.
"Selama setahun ini apa kontribusimu pada negeri? Porsi rebahannya dikurangi."
Yang paling gak tega, ia menyamar jadi anak kecil berumur tujuh tahun yang baru pulang dari TPA. Berwajah polos tapi seharusnya lebih menohok daripada harus adu otot.
"Aku tahun depan bisa sekolah, gak? Karena setahun ini cuma jual rongsokan untuk makan setiap hari."
Dan banyak lagi wajah lainnya yang ia coba. Sampai-sampai ada temannya yang menggebu-gebu mau jadi penjual tahu bulat keliling. Siaran meminta semuanya berjalan sebagaimana mestinya tapi untungnya berhasil Sri tahan.
Memang, sudah banyak yang tercapai dan tidak hanya berakhir menjadi tong kosong. Tapi masih ada hutang-hutang tahun ini yang belum terbayar. Banyak atau tidaknya, orang-orang penting itu yang tahu.
Tiba-tiba Sri pengin rebahan karena sudah capek. Tiba-tiba ia menyamar menjadi Sri sendiri. Mengetuk pintu hatinya dan berpesan;
"Bagaimana bukti padamu negeri selama setahun ini? Targetnya beneran tercapai apa malah jadi hutang juga? 365 hari ke depan, jangan cuma dianggurin sama hal-hal unfaedah."
Ah, penulis jadi ketampar.
Catatan: Yang belum tahu siapa Sri, bisa kenalan di Sri Edisi Prolog "Sampul dan Secuil Karakter Tentang Sri (Edisi Sri: Prolog)"
Baca episode selanjutnya: Catatan Untuk Negeri, Tertanda Pemuda (Edisi Sri: Eps 02)
