-->

Halaman

    Social Items



SRI, salah satu temanku yang pastinya orang Indonesia tulen. Banyak yang langsung menilai, bahwa ia orang desa yang norak, minim informasi, dan pemikirannya serba terbatas. Benar banget kalau ia orang desa, tapi persepsi lainnya sangat salah. Ternyata di abad 21, masih banyak ya yang menilai orang hanya dari nama dan dandanan yang super minimalis. Masih berasumsi kalau cara berpikir seseorang bergantung dari letak geografis kelahirannya. Padahal teknologi sudah maju, tapi pola pikir sebagian orang masih saja ada yang sedangkal itu.


Aku dan ia kadang bertemu untuk menghabiskan waktu membicarakan hal-hal lucu tapi aku paham kalau sebenarnya ia menaruh pesan-pesan serius di setiap ceritanya. Tapi karena jarak tidak memungkinan, kita jadi lebih sering by chating sampai malam. Pembicaraannya selalu asyik sekaligus nampol. Saking terlalu sering, aku jadi kecanduan. Gak bisa tidur nyenyak sebelum Sri cerita. Sekali pun itu cuma tentang kucingnya yang hamil diam-diam sama kucing garong milik tetangganya.  Hahaha...


Kalau cerita secara rinci tentang Sri, bakalan melebar kemana-mana. Aku gak sanggup mengetik seharian sekalipun disuguhi kopi se-galon. Apalagi sekarang aku lagi pengin belajar elevator pitch gara-gara nonton drama Start-Up. Jadi cukup presentasi Sri-nya tiga menit saja. Singkat, jelas, dan sepadat isi onde-onde di warung dekat rumah.


Untuk isi pembicaraanku dengan Sri, insya Allah bakal aku share setiap Senin dan Kamis (udah kayak puasa sunnah ya, wkwk). 

Sampai jumpa di edisi Sri episode perdana.


Baca selanjutnya: Surat Tahun Baru Dari Para Wajah (Edisi Sri: Eps 01)

Sampul dan Secuil Karakter Tentang Sri (Edisi Sri: Prolog)



SRI, salah satu temanku yang pastinya orang Indonesia tulen. Banyak yang langsung menilai, bahwa ia orang desa yang norak, minim informasi, dan pemikirannya serba terbatas. Benar banget kalau ia orang desa, tapi persepsi lainnya sangat salah. Ternyata di abad 21, masih banyak ya yang menilai orang hanya dari nama dan dandanan yang super minimalis. Masih berasumsi kalau cara berpikir seseorang bergantung dari letak geografis kelahirannya. Padahal teknologi sudah maju, tapi pola pikir sebagian orang masih saja ada yang sedangkal itu.


Aku dan ia kadang bertemu untuk menghabiskan waktu membicarakan hal-hal lucu tapi aku paham kalau sebenarnya ia menaruh pesan-pesan serius di setiap ceritanya. Tapi karena jarak tidak memungkinan, kita jadi lebih sering by chating sampai malam. Pembicaraannya selalu asyik sekaligus nampol. Saking terlalu sering, aku jadi kecanduan. Gak bisa tidur nyenyak sebelum Sri cerita. Sekali pun itu cuma tentang kucingnya yang hamil diam-diam sama kucing garong milik tetangganya.  Hahaha...


Kalau cerita secara rinci tentang Sri, bakalan melebar kemana-mana. Aku gak sanggup mengetik seharian sekalipun disuguhi kopi se-galon. Apalagi sekarang aku lagi pengin belajar elevator pitch gara-gara nonton drama Start-Up. Jadi cukup presentasi Sri-nya tiga menit saja. Singkat, jelas, dan sepadat isi onde-onde di warung dekat rumah.


Untuk isi pembicaraanku dengan Sri, insya Allah bakal aku share setiap Senin dan Kamis (udah kayak puasa sunnah ya, wkwk). 

Sampai jumpa di edisi Sri episode perdana.


Baca selanjutnya: Surat Tahun Baru Dari Para Wajah (Edisi Sri: Eps 01)

Fiksi

Subscribe Our Newsletter