
Sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Darmono menghembuskan napas terakhir. Berita ini meninggalkan duka terdalam untuk semua orang. Kita tidak akan lagi melihat karya-karya baru beliau. Namun beliau yang hidup dalam keabadian tak merelakan kita sendirian, bait-baitnya menemani dan tak akan lekang oleh waktu. Berikut karya-karya puisi beliau yang penuh makna:
10 Karya Puisi Sapardi Djopko Darmono
1. Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabahdari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
2. Yang Fana Adalah Waktu
Yang fana adalah waktu.Kita abadi memungut detik demi detik
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.
3. Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti,jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.
4. Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
5. Kenangan
Ia meletakkan kenangannyadengan sangat hati-hati
di laci meja dan menguncinya
memasukkan anak kunci ke saku celana
sebelum berangkat ke sebuah kota
yang sudah sangat lama hapus
dari peta yang pernah digambarnya
pada suatu musim layang-layang
Tak didengarnya lagi
suara air mulai mendidih
di laci yang rapat terkunci.
Ia telah meletakkan hidupnya
di antara tanda petik
6. Sementara Kita Saling Berbisik
sementara kita saling berbisikuntuk lebih lama tinggal
pada debu, cinta yang tinggal berupa
bunga kertas dan lintasan angka-angka
ketika kita saling berbisik
di luar semakin sengit malam hari
memadamkan bekas-bekas telapak kaki
menyekap sisa-sisa unggun api sebelum fajar.
Ada yang masih bersikeras abadi.
7. Sajak Kecil Tentang Cinta
Mencintai angin harus menjadi siutMencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintai-Mu harus menjelma aku
8. Hatiku Selembar Daun
Hatiku selembar daunmelayang jatuh di rumput
Nanti dulu
biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi
9. Sajak Tafsir
Kau bilang aku burung?Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah
tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu
Tolong tafsirkan aku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu
Tolong ciptakan makna bagiku
apa saja — aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.
10. Menjenguk Wajah di Kolam
Jangan kau ulang lagimenjenguk wajah yang merasa sia-sia
yang putih
yang pasi
itu.
Jangan sekali-kali membayangkan
Wajahmu sebagai rembulan.
Ingat,
jangan sekali-kali.
Jangan.
Baik, Tuan.
Hujan kini di bulan Juli, karena kami kehilanganmu. Terima kasih, sastra dan jiwamu sudah jadi bagian hidup kami. Karyamu abadi. Kami "utang rasa". Selamat jalan, Eyang.