
Pandemi Covid 19 di Indonesia belum kunjung usai. Terjadi kenaikan pasien positif Covid 19 setiap harinya. Pemerintah sudah mengedukasi kita untuk mencegah penyebaran Covid 19 dengan jaga jarak, jaga kebersihan, hindari kerumunan, dsb. Para tenaga medis juga sudah berjibaku hingga merelakan keluarga di rumahnya demi menjadi garda terdepan menyelamatkan ribuan nyawa.
Nah, tugas kita cukup terbilang mudah untuk menyelamatkan ibu pertiwi ini hanya dengan menjadi Hero rumahan. Cukup tinggal di rumah saja. Tapi bagi kaum yang hidup di tanah perantauan, ini situasi yang serba sulit. Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan ramadhan, bulan kebahagiaan bersama keluarga. Tradisi mudik di bulan ini sama sekali tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Sudah menjadi suatu keharusan. Tapi untuk tahun ini, kita jangan mudik. Tunda dulu.
Kalau kita mudik, kita tidak bisa memprediksi tubuh kita akan aman dari Covid 19 atau tidak selama perjalanan. Bisa saja nekat mudik menjadi nikmat yang membawa sengsara. Kita pulang bawa oleh-oleh Covid 19 pada tubuh kita. Yang terinfeksi bukan hanya diri kita, tapi juga orang-orang terdekat kita di kampung halaman.
Kabarnya, 1 orang bisa menulari 406 orang dalam sebulan. Apalagi orang tua 3 kali lebih rentan terinfeksi Covid 19. Sama saja kita membawa virus untuk orang sedusun, sedesa, bahkan satu kota. Ngeri, kan? Memang kita nggak boleh panik, tapi waspada harus.
Mari lindungi keluarga kita dengan tidak mudik. Tahan dulu. Sabar. Tunggu hingga Indonesia benar-benar pulih dari pandemi ini. Setelah itu kita bisa berkumpul sepuas hati bersama keluarga. Untuk sementara ini, kita bisa menggunakan media sosial, misalnya dengan melakukan video call untuk melepas rindu sejenak. Memang ini berat, tapi solidaritas kita sangat dibutuhkan untuk membunuh rantai Covid 19 ini.