-->

Halaman

    Social Items


Pandemi COVID-19 jadi momok global yang belum usai berkeliaran kasat mata. Berdasarkan peta Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE (6 April 2020), 1.277.962 orang di dunia telah terinfeksi dan jumlah kematian mencapai 69.527 orang. Sementara di Indonesia, lonjakan pasien terus meningkat setiap harinya. Kasus infeksi virus ini telah mencapai angka 2.491 orang dengan 192 orang yang sembuh dan 209 orang meninggal dunia (data dari situs COVID19.go.id). 

Peluang Indonesia untuk menang dalam penanganan teror pandemi ini tidak cukup membebankannya pada pihak pemerintahan dan tenaga medis. Solusi untuk mencegah dan mengurangi jumlah kenaikan jumlah pasien sudah disebar di berbagai media. Mulai dari jaga jarak, work from home, beribadah di rumah, jaga imun, dan jaga kebersihan dengan rajin cuci tangan. Namun edukasi ini belum diindahkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Mirisnya, himbauan “di rumah aja” malah jadi kesempatan untuk ikut antrian padat di jalan raya untuk pergi ke puncak, melipir ke pantai, atau datang ke perkumpulan orang banyak. Terkesan menantang maut.   

Penyelesaian pandemi COVID-19 bukan hanya tantangan ilmiah melainkan juga tantangan sosial yang sangat serius. Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Director-General of the World Health Organization menyatakan “Solidarity is the key to defeating COVID-19”. Kunci solidaritas tidak butuh saling hujat, saling menyalahkan, bahkan diselipkan dalam hawa politik. Indonesia sudah luber dengan kata-kata negatif. Bahkan edaran artikel hoax kerap muncul di media sosial dan dimakan mentah oleh masyarakat yang tipis minat literasi. Kata-kata menggoyahkan solidaritas dan menjerumuskan pada arus meremehkan teror COVID-19. 

Detik ini Indonesia sangat membutuhkan perserikatan ratusan juta Hero yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya pemerintahan dan tenaga medis, semua masyarakat harus sadar diri untuk jadi Hero. Hero dengan cukup di rumah saja. Tugas sederhana tapi sulit diterapkan bagi sebagian masyarakat yang belum sadar. 

Beberapa masyarakat masih berpikir tetap bekerja di tengah pandemi ini. Perintah untuk di rumah saja menyulitkan perekonomian mereka untuk menyambung hidup. Apalagi bagi mereka yang rezeki hari ini cukup untuk dimakan hari ini. Mereka serba bingung untuk patuh. Para anak muda juga malas menahan gerah berhari-hari di rumah tanpa hang out. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan di rumah selain menyelesaikan tugas dengan belajar berbakti pada orang tua, menekuni hobi, atau sangat boleh rebahan 24 jam nonstop. Masih banyak juga masyarakat yang keluar dari rumah untuk kepentingan yang tidak begitu mendesak. Bahkan mereka yang mengakui diri telah dewasa, malah sibuk berpolemik, menggiring masyarakat untuk mengkotak-kotakkan kelompok.

Sudah jelas, permasalahan COVID-19 semakin betah karena keegoisan masyarakat Indonesia sendiri. Masih banyak yang saling enggan jadi Hero rumahan. Padahal yang dibutuhkan adalah kesepakatan masyarakat untuk bersatu. Jadi Hero yang menyebarkan kata-kata pemersatu, saling menguatkan, dan optimis bersama menaklukan COVID-19. Bukankah seisi Indonesia bersaudara? 

Cara Transformasi Hero
Strategi penyelesaian pandemi COVID-19 adalah dengan tidak membuat lonjakan kurva pasien melebihi kapasitas kesehatan yang ada. Physical distancing (frasa sebelumnya social distancing yang telah diganti oleh WHO karena sejatinya tidak memutus kontak teman maupun keluarga secara sosial) di beberapa negara dinilai efektif menurunkan angka penyebaran COVID-19. Semua masyarakat dapat memposisikan tubuhnya positif terpapar virus corona. Anggapan ini secara tidak langsung akan memerintahkan diri untuk melakukan lockdown pada diri sendiri dengan tetap di rumah saja. Juga membatasi diri untuk bersentuhan fisik, menjaga jarak, dan menghindari kerumuman orang. Referensi tips-tips kerja atau karantina diri di rumah yang efektif telah banyak berseliweran di dunia internet. Pilih tips mudah dengan multiple choice bergantung pada karakter pribadi masing-masing. Jika masih kukuh mencari alasan dan acuh pada bukti nyata dari efektivitas physical distancing, siap-siap tegar menjadi bahan guyonan negara luar karena “enteng” melawan pandemi ini.

Kapolri Jenderal Idham Aziz juga telah mengeluarkan maklumat bernomor Mak/2/III/2020, tentang kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penangan penyebaran COVID-19 yang diteken pada tanggal 19 Maret 2020. Terdiri dari empat poin yang salah satunya adalah melarang masyarakat untuk mengadakan kegiatan yang mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Aparat kepolisian akan bertindak tegas pada pelanggar maklumat namun tetap mengedepankan persuasif. Tiga pasal (Pasal 216 KUHP, Pasal 218 KUHP, dan Pasal 218 KUHP) siap menunggu jika masih ada yang mengajak adu emosi. Keseriusan ini sangat harus diimbangi dengan keseriusan masyarakat untuk berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi Hero. 

Hero COVID-19 tidak butuh seleksi kekuatan fisik dan tidak hobi adu integritas kelayakan diksi sampah yang merusak persatuan bangsa. Butuh Hero yang saling mengedukasi, meluruskan broadcast grup yang isinya membodohkan atau memperkeruh situasi rakyat, dan lebih mengedepankan solidaritas. Bisa juga ikut andil dalam memberikan bentuk tindakan karitatif dengan memberikan sumbangan atau berdonasi untuk membantu menuntaskan penanganan COVID-19 di Indonesia.

Pandemi COVID-19 sebenarnya sedang menguji tingkat kesosialan masyarakat Indonesia. Lebih tepatnya, diajak merenungi kembali kandungan dari sila ketiga pancasila. Kembali fitrah menjadi pribadi Indonesia yang cinta gotong royong. Sebelumnya, negeri ini terlalu ramai dengan kegaduhan saling menjatuhkan antar saudara. Membelah kelompok tanpa mau rendah hati mengintropeksi diri. Adu gagasan dengan menjunjung tinggi pribadi yang merasa paling benar dan berhak menang. Serta konspirasi yang kadang merugikan kaum bawahan. 

Sekarang waktu yang tepat untuk melepas diri dari segala jenis egoisme. Hapus level kasta dengan fokus pada satu tujuan. Fokus bersatu padu menjalankan tugas mulia menjadi Hero cukup hanya dengan tetap di rumah saja untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. Landainya kurva pasien akan mengurangi jumlah orang yang terinfeksi sekaligus mengurangi angka kematian. Semakin patuh pada protokol pemerintah, semakin cepat Indonesia kembali hidup normal. Oleh karena itu, hanya ratusan juta Hero yang bisa segera mewujudkan kembali senyum Indonesia tanpa masker.

COVID-19 Butuh Hero Rumahan


Pandemi COVID-19 jadi momok global yang belum usai berkeliaran kasat mata. Berdasarkan peta Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE (6 April 2020), 1.277.962 orang di dunia telah terinfeksi dan jumlah kematian mencapai 69.527 orang. Sementara di Indonesia, lonjakan pasien terus meningkat setiap harinya. Kasus infeksi virus ini telah mencapai angka 2.491 orang dengan 192 orang yang sembuh dan 209 orang meninggal dunia (data dari situs COVID19.go.id). 

Peluang Indonesia untuk menang dalam penanganan teror pandemi ini tidak cukup membebankannya pada pihak pemerintahan dan tenaga medis. Solusi untuk mencegah dan mengurangi jumlah kenaikan jumlah pasien sudah disebar di berbagai media. Mulai dari jaga jarak, work from home, beribadah di rumah, jaga imun, dan jaga kebersihan dengan rajin cuci tangan. Namun edukasi ini belum diindahkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Mirisnya, himbauan “di rumah aja” malah jadi kesempatan untuk ikut antrian padat di jalan raya untuk pergi ke puncak, melipir ke pantai, atau datang ke perkumpulan orang banyak. Terkesan menantang maut.   

Penyelesaian pandemi COVID-19 bukan hanya tantangan ilmiah melainkan juga tantangan sosial yang sangat serius. Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Director-General of the World Health Organization menyatakan “Solidarity is the key to defeating COVID-19”. Kunci solidaritas tidak butuh saling hujat, saling menyalahkan, bahkan diselipkan dalam hawa politik. Indonesia sudah luber dengan kata-kata negatif. Bahkan edaran artikel hoax kerap muncul di media sosial dan dimakan mentah oleh masyarakat yang tipis minat literasi. Kata-kata menggoyahkan solidaritas dan menjerumuskan pada arus meremehkan teror COVID-19. 

Detik ini Indonesia sangat membutuhkan perserikatan ratusan juta Hero yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya pemerintahan dan tenaga medis, semua masyarakat harus sadar diri untuk jadi Hero. Hero dengan cukup di rumah saja. Tugas sederhana tapi sulit diterapkan bagi sebagian masyarakat yang belum sadar. 

Beberapa masyarakat masih berpikir tetap bekerja di tengah pandemi ini. Perintah untuk di rumah saja menyulitkan perekonomian mereka untuk menyambung hidup. Apalagi bagi mereka yang rezeki hari ini cukup untuk dimakan hari ini. Mereka serba bingung untuk patuh. Para anak muda juga malas menahan gerah berhari-hari di rumah tanpa hang out. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan di rumah selain menyelesaikan tugas dengan belajar berbakti pada orang tua, menekuni hobi, atau sangat boleh rebahan 24 jam nonstop. Masih banyak juga masyarakat yang keluar dari rumah untuk kepentingan yang tidak begitu mendesak. Bahkan mereka yang mengakui diri telah dewasa, malah sibuk berpolemik, menggiring masyarakat untuk mengkotak-kotakkan kelompok.

Sudah jelas, permasalahan COVID-19 semakin betah karena keegoisan masyarakat Indonesia sendiri. Masih banyak yang saling enggan jadi Hero rumahan. Padahal yang dibutuhkan adalah kesepakatan masyarakat untuk bersatu. Jadi Hero yang menyebarkan kata-kata pemersatu, saling menguatkan, dan optimis bersama menaklukan COVID-19. Bukankah seisi Indonesia bersaudara? 

Cara Transformasi Hero
Strategi penyelesaian pandemi COVID-19 adalah dengan tidak membuat lonjakan kurva pasien melebihi kapasitas kesehatan yang ada. Physical distancing (frasa sebelumnya social distancing yang telah diganti oleh WHO karena sejatinya tidak memutus kontak teman maupun keluarga secara sosial) di beberapa negara dinilai efektif menurunkan angka penyebaran COVID-19. Semua masyarakat dapat memposisikan tubuhnya positif terpapar virus corona. Anggapan ini secara tidak langsung akan memerintahkan diri untuk melakukan lockdown pada diri sendiri dengan tetap di rumah saja. Juga membatasi diri untuk bersentuhan fisik, menjaga jarak, dan menghindari kerumuman orang. Referensi tips-tips kerja atau karantina diri di rumah yang efektif telah banyak berseliweran di dunia internet. Pilih tips mudah dengan multiple choice bergantung pada karakter pribadi masing-masing. Jika masih kukuh mencari alasan dan acuh pada bukti nyata dari efektivitas physical distancing, siap-siap tegar menjadi bahan guyonan negara luar karena “enteng” melawan pandemi ini.

Kapolri Jenderal Idham Aziz juga telah mengeluarkan maklumat bernomor Mak/2/III/2020, tentang kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penangan penyebaran COVID-19 yang diteken pada tanggal 19 Maret 2020. Terdiri dari empat poin yang salah satunya adalah melarang masyarakat untuk mengadakan kegiatan yang mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Aparat kepolisian akan bertindak tegas pada pelanggar maklumat namun tetap mengedepankan persuasif. Tiga pasal (Pasal 216 KUHP, Pasal 218 KUHP, dan Pasal 218 KUHP) siap menunggu jika masih ada yang mengajak adu emosi. Keseriusan ini sangat harus diimbangi dengan keseriusan masyarakat untuk berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi Hero. 

Hero COVID-19 tidak butuh seleksi kekuatan fisik dan tidak hobi adu integritas kelayakan diksi sampah yang merusak persatuan bangsa. Butuh Hero yang saling mengedukasi, meluruskan broadcast grup yang isinya membodohkan atau memperkeruh situasi rakyat, dan lebih mengedepankan solidaritas. Bisa juga ikut andil dalam memberikan bentuk tindakan karitatif dengan memberikan sumbangan atau berdonasi untuk membantu menuntaskan penanganan COVID-19 di Indonesia.

Pandemi COVID-19 sebenarnya sedang menguji tingkat kesosialan masyarakat Indonesia. Lebih tepatnya, diajak merenungi kembali kandungan dari sila ketiga pancasila. Kembali fitrah menjadi pribadi Indonesia yang cinta gotong royong. Sebelumnya, negeri ini terlalu ramai dengan kegaduhan saling menjatuhkan antar saudara. Membelah kelompok tanpa mau rendah hati mengintropeksi diri. Adu gagasan dengan menjunjung tinggi pribadi yang merasa paling benar dan berhak menang. Serta konspirasi yang kadang merugikan kaum bawahan. 

Sekarang waktu yang tepat untuk melepas diri dari segala jenis egoisme. Hapus level kasta dengan fokus pada satu tujuan. Fokus bersatu padu menjalankan tugas mulia menjadi Hero cukup hanya dengan tetap di rumah saja untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. Landainya kurva pasien akan mengurangi jumlah orang yang terinfeksi sekaligus mengurangi angka kematian. Semakin patuh pada protokol pemerintah, semakin cepat Indonesia kembali hidup normal. Oleh karena itu, hanya ratusan juta Hero yang bisa segera mewujudkan kembali senyum Indonesia tanpa masker.

Fiksi

Subscribe Our Newsletter