
Telinga ramai penuh ancaman
Undangan air mata bertebaran
Resah termenung tanpa angan
Dulu kami ahli bersenda gurau
Menyambut sarapan dari petang
Menyeringai langit bersama layang-layang
Cerita berubah lintasan
Meneriaki barisan lakon pemerintahan
Menyerukan negoisasi ajal berkepanjangan
Meski jelas, mereka enggan
Atap menunduk pada tanah
Angin bertanya pada arah
Air menciut tak berwajah
Mereka masih bertuan
Bertuan pada kami yang tertatih
Pada kami yang paruh baya
Pada kami yang diiming-imingi masa depan
Dan, pada kami yang berkutat pada tangisan
Hai… Dengarlah!
Para pujangga negara
Yang menganggap setengah dewa
Bertahta bulan
Beratap nirwana
Dengarkan kerunyaman batin kami
Dalam bait bersyair murni
Negeri yang masih kami anggap negeri
Samarkan etnis kami
Kami rohingya
Kami manusia
Hak kami transparan
Kembalikan tempat kelahiran kami
Serahkan hidup kami
Manusiakanlah kami
Semesta serempak menyinyir
Membela kami yang tersingkir
Menggendong kami yang terusir
Ini bukan negeri dongeng para penyihir
Hanya duduk manis sambil menyengir
Yang begitu segan membuat akhir
Kalian paham batasan
Kalian eksis pengetahuan
Kalian handal bersemayam
Sangat ahli menyatakan
Diri kalian adalah manusia
Sadarlah para tuan
Kami kaum bersahaja
Jugapun manusia
Menyandang hak yang sama
Maknailah
Kami rohingya
Sungguh, kami manusia