Yang punya sayap bisa terbang tinggi. Kemana saja. Suka-suka hati tanpa dibatasi arah. Apalagi kalau sedang mengepakkan sayap diatas langit terus berani menundukkan kepala, akan terlihat jutaan orang yang menghujani pujian. Dan sekarang, zamannya teknologi canggih. Segala informasi mudah didapatkan dan disebarkan menyeluruh hingga sampai juga pada tangan tukang gorengan.
Seperti sekarang, lagi ramai-ramainya media menyoroti tokoh yang karyanya sudah terbang hingga hollywood. Dibanjiri pujian dan doa akan kesuksesan mengenalkan aset bangsa. Dijungjung tinggi namanya, namun setelah itu nyalanya redup. Malah balik menyudutkannya, mulai dari rentetan kalimat, "segudang prestasi dari tokoh kemayoran", "kenarsisan sutradara merusak citra film", dan banyak kalimat menggelitik yang malah dialihkan pada penyelesaian kata sosok tersebut, "biar karya yang menjawab." Bahkan, daftar pencarian tentangnya yang teratas adalah tentang prestasi hoaks-nya.
Penikmat isu kembali pada karya, malah banyak yang curhat. Ada yang menyesal sudah bayar kursi di bioskop dan uang ojek online. Ada yang ingin keluar karena mata mulai letih mencari keistimewaan pada adegan di layar lebar itu. Ada juga yang mendadak ingin beralih searching tentang cara ternak ayam. Lalu mana yang harus masyarakat percayai? Sebagian dari mereka sudah kehilangan akal memuji, menyandang status "cinta jadi benci".
Kalau nyata kebenarannya, masyarakat akan berdiri tepuk tangan dan hormat. Tapi jika salah, akan banyak pertanyaan-pertanyaan menjatuhkan.
Tidak pernahkah melirik tetangga yang jatuh bangun demi membungkus karya se-epik mungkin? Yang mempertaruhkan hidupnya demi sepasang sayap untuk terbang diatas mimpi besar mereka. Pastinya tidak semudah roda mobil menggelinding di jalan tol. Berdarah-darah, mikir keras.
Tapi setelah diterjemahkan, ada pelajaran mendalam yang tersirat. Menjadi sukses dan dipuja-puja bangsa tidak semudah meniupkan kapas, yang ringan tanpa beban. Namun wajib tertatih-tatih hingga perlahan sayap siap untuk melanglang buana.
