Teknologi makin canggih, makin banyak yang hobi sama hal-hal instan. Misalnya, lebih suka mie instan, bumbu instan, kopi instan, dan lain-lain. Mungkin inilah yang dimaksud keadaan sejahtera. Tanpa banyak tenaga, kebutuhan terpenuhi. Kadarnya sebanding antara budaya instan yang malah mencetak generasi manja. Manja dengan merasa apa yang dilontarkannya lebih benar. Manja dengan pemikirannya yang wajib diterima banyak masyarakat. Manja mendesak orang untuk mengagungkan kepintarannya.
Sudah jelas, kopi instan di zaman sekarang laris sekali. Tidak perlu membuat, cukup langsung teguk. Setelah itu langsung menggembar-gemborkan rasa yang tiada dua. Padahal kopi buatan tangan jauh lebih enak. Lidah ditawarkan kenikmatan hakiki.
Sama dengan masyarakat zaman sekarang. Beberapa dari mereka hanya bermodal kuota, teknologi, dan bacaan-bacaan singkat sudah merasa paling pintar. Sudah merasa paling benar dibandingkan mereka yang mengembara mempekerjakan otak. Menelaah setiap ilmu dan tidak asal bicara ngegas.
Sebenarnya mereka (penyanjung kopi instan), hanya copy paste bacaan dan disampaikan ulang dalam wujud lisan. Dilakukan berulang kali hingga muncul ke permukaan. Mulai berani ngajak tanding sama mereka yang mempekerjakan otak. Jangan salah kalau mereka senyum-senyum. Kan emang lucu kalau mendengarkan kalimat dari si pecinta kopi instan yang merasa paling tahu padahal banyak salahnya.
Makanya, kita jangan sampai jadi pecinta kopi instan. Belajar yang banyak. Berguru yang rajin. Dahulukan menggunakan pikiran daripada asal lontar tapi malah diketawain. Ilmunya sudah banyakpun jangan dijadikan ajang sombong, karena semakin tinggi ilmu seseorang maka akan semakin bijak orang tersebut. Mari menjadi generasi bijak!
